Senin, 21 Juli 2014

1st Traveler



14 April 2014, Dini menjelang pagi

Yogyakarta begitu bersahabat. Setelah melewati perjalanan kereta yang melelahkan cirebon -yogyakarta, Di dalam mesjid stasiun lempuyangan ini kami berempat beristirahat menuggu adzan shubuh berkumandang, Abah atau deby temen gue yang satu ini sibuk dengan gadget-nya, dia terus-menerus me-refresh timeline di tweetcaster-nya, begitu juga fahmi yang sibuk update status di path-nya, tidak kalah Nanda, dia juga sibuk mengirim pesan bbm kepada majikan pacar-nya. Gue pun ga kalah sibuk dari mereka, gue ambil head-set di tas kecil dan mulai dengan memutar playlist di handphone gue. Ya, gue gak mau kalah sibuk.

Adzan shubuh pun akhirnya berkumandang, kami berempat segera mengambil air wudhu dan menuaikan shalat shubuh berjama’ah, setelah semua-nya selesai menunaikan shalat, kami berempat pun meninggalkan stasiun lempuyangan dan entah melanjutkan kemana rute selanjutnya, di gerbang stasiun lempuyangan kami behenti sejenak di warung kopi, hanya sekedar untuk menghangatkan badan, tetapi di warung kopi ini ternyata tidak sekedar badan saja yang hangat.

“Bu, beli air panas empat gelas ya.” Kata gue ke ibu-ibu penjaga warung
“Mau, makan apa de?.” Tanya ibu-ibu itu
“Engga bu, kita ga makan, kita cuman pesen air panas empat gelas aja bu” jawab gue
“Ayam-nya ayam goreng apa ayam bakar de?.” Tanya ibu itu
“Kita engga makan bu, kita cuman pesen air panas!!.” Jerit abah
“Oh gitu de, mau kopi apa teh de? Tanya si ibu
“aaakkkk.. kita cuman pesen air panas nya aja!.” Jerit abah
“Empat yak de.” Kata si ibu
“iya bu, kita pesen empat.” Kata gue

Setelah percakapan itu selesai, Nanda yang membawa bekel super komplit, mengeluarkan kopi sachet dari kantong kresek supermarket-nya, kita berempat pun menyeduh kopi itu di gelas yang di kasih susah payah dari si ibu penjaga warung tadi, sejenak kita menikmati kopi hangat di warung pinggir jalan di depan stasiun lempuyangan, di Yogyakarta.

Sedikit demi sedikit, kopi di gelas kami berkurang, tidak lama kemudian datang seorang ibu-ibu yang kemudian bertanya.

“Dari mana de?.”
“dari Majalengka bu, Cirebon.” Jawab gue sekenanya
“Oh Cirebon toh, kuliah di sini?” Tanya si ibu
“Yes.. Ibu yang ini bisa di ajak ngobrol.” Kata gue dalam hati
“Engga bu, biasa main aja kesini, hehe..” jawab gue
“Kalo halte transjogja dari sini deket ga bu?”
“Wah.. Lumayan jauh toh de, dari sini adenya jalan sampe perempatan pertama, abis itu belok kanan jalan lurus sampe perempatan pertama dari sana lalu belok kiri de.” Jawab si ibu

Bertepatan dengan kopi yag gue minum itu habis, gue pamit dan pergi ke halte terdekat dari lempuyangan.
Lama kami berjalan, setelah mentok di perempatan kedua, kami berempat bingung, ternyata di sana tidak ada halte transjogja atau pun angkutan umum lainnya.

“kayaknya si ibu tadi belum selesai ngasih tau kita.” Kata fahmi
“iya kayaknya, kemana kita sekarang?.” Tanya nanda
“kita ikut kemana kaki ini ingin melangkah aja bro.” kata abah yakin
“oke bah.” Jawab gue

Tidak hanya mengandalkan kaki yang ingin melangkah saja, tapi kami coba membuka GPS dan mencari halte transjogja terdekat dari tempat kami berjalan. Di persimpangan jalan, di tembok-tembok pinggir jalan kami berhenti untuk berfoto dengan hasil karya dari tangan pelukis pelukis pinggir jalan yang jarak nya tidak jauh dari halte, cik diktiro 1 namanya. Sebelum kami membeli tiket transjogja, gue coba hubungi teman gue yang lagi kuliah di sana, kalo gue lagi di Yogya butuh tempat numpang mandi dan nitip ransel.

 Setelah sampai di kost-an nya

 “Gue berangkat ngampus dulu, kalian istirahat dulu aja, kalo mau keliling UGM, kunci kamarnya simpan di bawah keset aja.” Kata trunna
“Baru aja gue sampe, yaudah oke sip.” Jawab gue

Setelah beres mandi, dan semua ritual khusus (boker) beres, kami berempat pun pergi dan berkeliling di kampus UGM, bangunan pertama yang gue kunjungi, dan emang buat tujuan gue pergi ke Yogyakarta adalah masuk ke Fakultas Tekhnik, ini emang menjadi mimpi gue, dimana nanti melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri.

Tapi ketika di fakultas teknik...