Singkat cerita, sekarang gue sudah beranjak menggati seragam gue dengan
meninggalkan celana pendek yang berwarna biru dan baju putih dengan dasi
berwarna biru dan menggantinya dengan sebuah celana abu-abu dan baju putih atau
yang umum di pakai bocah-bocah yang berumur 15 Th atau yang bisa di sebut anak
SMA. Ah.. Sudahlah.. sudah.
gue berhasil bersekolah di sebuah SMA negeri yang jaraknya dekat dengan SMP
gue, yaitu SMAN 1 Majalengka, sebuah SMA yang populer dan favorit di kota gue.
Ah elah..
Di awal gue masuk di sekolah itu gue duduk di kelas MOPD yaitu kelas X-4
dimana di kelas itu gue bersama 2 orang sodara aneh gue yaitu fahmi, dan reza,
sebuah sesuatu yang kebetulan karena gue bertiga sudah seperti kacang tanah
yang berisi tiga kacang didalamnya, yang terlindungi oleh kulitnya dan tidak di
pisahkan oleh apapun dan selalu berdampingan. Ceileehh.. bu..
gue kira.. gue bakal bertahan 2 semester bersama dua sodara sekaligus
sahabat gue, karena itu yang membuat gue tenang karena gue satu kelas bersama
keluarga gue sendiri, tetapi semua jauh di luar akal fikiran kita bertiga, karena
kita bertiga di pisahkan..
Beberapa upaya telah gue lakuin agar tetap berada di dalam satu kelas. Tetapi sayang semuanya
perbuatan gue itu gak mengubah keputusan, dan kita bertiga tetap di pisahkan.
Singkat cerita
Gue di pisahkan ke kelas X-2 disana ada 7 orang yang di pisahan dari kelas
MOPD nya, dan salah satunya ada yang udah gue kenal semenjak gue smp, yaitu
bokeng si toa. gue pun duduk satu bangku di kelas yang gue rasa angker itu,
wali kelas kelas X-2 adalah seorang guru Agama yaitu Bpk. H.Mulyadi.S.Ag.
Jam pelajaran pertama pun dimulai, gue dan bokeng duduk dibelakang manusia
yang entah berasal dari planet mana, yang memiliki akun twitter: @iam51pemimpi
(ga penting ini (--,)). Pelajaran pertama pada saat itu adalah pelajaran
mateMATIka, pelajaran yang membuat gue minder karena pada saat itu sang guru
memberikan soal latihan dan hampir semua murid yang ada di kelas itu unjuk tangan
untuk menjawab soal yang di berikan
guru tersebut. Gue berfikir “ mampus gue, apa yang bisa gue lakukan di kelas
ini?”.
Satu minggu 2menit setelah gue masuk kelas x2 mengubah hidup gue dari yang
tadinya hyperaktif menjadi seseorang yang seperti sedang menahan berak. Tapi
itulah yang menjadi sebuah motivasi, dimana gue menjadi tertantang karena
“mereka bisa kenapa kita engga?” selagi itu masih positif karena mereka makan
nasi, sedangkan gue makan kaca. Dan itu membuat gue menjadi termotivasi bahwa
diam tidak akan membuat perubahan yang berarti sehingga kita harus berani
mengambil sebuah tindakan.
Akhirnya.. setelah gue berjuangan beradaptasi dan membuat kelas menjadi
kompak, karena saat itu juga gue menjadi Kacung (Re: KM) (lagi) di sana. Dan
tumbuhlah monyet-monyet yang jiwanya rusak yang membuat kelas menjadi beda dan semakin
angker monyet-monyet ini adalah:
1. Deby muhamad budi: Dia keluaran sekolah
islam, dia keluaran yang gagal, orang2 memangilnya dengan sebutan “abah”,
kadang ada yang memanggilnya dengan sebutan panjang seperti ini: “manusia
dengan muka lebih tua dari umurnya” manusia yang tahan banting dan tahan
karat ini memberikan dampak yang berbeda di kelas X-2. Dia yang paling angker
2. Fiko gunawan: dia memiliki dagu yang paling
panjang di kelas gue, dan memiliki kelainan dengan telinga orang lain, ternyata
badannya lebih panjang dari kakinya. Fanantik android dan maniak pedas, dia
admin kelas dengan dagu seperti fir’aun.
3. Muhamad reza: anak dari bos genteng ini hobbynya
ngajak jalan-jalan, makan pocky bareng pacarnya, belanja gadget dan gak berani
nonton film horror di bioskop.
4. Rizki amali (bokeng): si toa dimana dia tidak
bisa mengeluarkan bunyi dari dalam mulutnya dengan suara yang pelan. Perut
buncit dan pemberanilah ciri khas nya *ganti baju baju olahraga di pojok kelas,
dimana murid-murid wanita masih berada di dalam kelas adalah salah satu contoh
keberaniannya.
5. Angga rizki utama: playboy gagal, monyet dengan
lubang hidung yang lebih besar dari matanya dan monyet yang paling stylish di
kelas dengan senyum yang lebar dan lumut di giginya.
6. Aras harum: laki-laki jantan atlit volly daerah
yang jenis kelamin absen di kelasnya (P), dia punya seribu wajah yang konyol
dan unik.
Dan itu semua memberikan sebuah pemikiran bahwa jangan takut untuk
beradaptasi. “mereka bisa kenapa kita engga?” dalam hal yang positif, dan satu
yang pasti. Minder itu engga ada gunanya, kita mampu, kita bisa. Beradaptasi
lah karena itu ciri makhluk hidup dan lakukanlah yang terbaik.
AH ELAAAH...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar